7 Kesalahan yang Paling Sering Dilakukan Dedek Gemesh dalam Menulis Novel/Cerpen

7 Kesalahan yang Paling Sering Dilakukan Dedek Gemesh dalam Menulis Novel/Cerpen

Author:
Price:

Baca selengkapnya

 



1. Over kata "ku/aku"

Contoh : Namaku Ariny. Aku tinggal di Martapura bersama ayahku, ibuku, kakakku dan adikku. (Salah)

Dalam satu paragraf, diusahakan banget hanya ada dua kata ku/aku. Maka kalimat di atas bisa direvisi menjadi :

"Namaku Ariny. Tinggal di Martapura bersama Ayah, Ibu, Kakak dan Adik."

2. Penulis dialog yang masih salah.

A. Dialog tag

Seringnya sih salah dalam penulisan dialog tag. Apa itu dialog tag? Jika kata-kata di pict setelah tanda kutip akhir, maka penulisannya harus memakai koma sebelumnya. Jika tidak ada, maka harus memakai titik.

Contoh :

"Aku mencintaimu", ucap Arizal. (salah)

"Aku mencintaimu." Ucap Arizal. (Salah)

Yang benar :

"Aku mencintaimu," ucap Arizal.

Namun, jangan semua dialog memakai dialog tag. Pembaca akan capek membacanya. Selipkan dialog aksi atau disertai dengan tindakan yang diperbuat tokohnya.

Contoh :

"Aku mencintaimu." Arizal mengucapkan kalimat itu dengan ekspresi wajah sangat serius.

B. Kalimat sapaan

Jika ada ata Pak, Bu, Om, Ma, Nek, Bi, Mas dll maka penulisannya harus memakai koma juga.

Contoh :

"Permisi, pak." (Salah)

Yang benar :

"Permisi, Pak."

3. Penggunanan tanda baca yang masih sering salah.

Yang seharusnya memakai titik jadi tanda seru.

Saya di bagian ini tidak akan membahas lebih detail. Sudah ada di pelajaran sejak SD. Monggo dibuka lagi buku Bahasa Indonesianya tentang bab "Fungsi Tanda Baca"

B. Banjir Elipsis.

Elipsis itu tanda titik 3 (...)

Entah Dedek Gemes demen banget make elipsis di semua dialog dan narasi. Mungkin bisa bikin naskah lebih kiyut di mata mereka 🙄

Contoh :

Ariny ... mencintai Arizal ... tetapi Arizal...memilih...wanita lain.

"Bisakah...kamu...mencintaiku juga?"

"Maaf...aku...sudah...memilih yang lain."

Itu contoh yang salah. Buka bikib kiyut, tapi bikin editor sakit mata.

Elipsis tidak bisa digunakan sembarangan. Hanya dibsa digunakan dalam kondisi gugup, takut, gagap, terbata, dan ucapan menggantung.

Contoh :

"Aku akan jelasin semuanya, tapi ..." ucapan Ariny menggantung karena melihat kehadiran Arikmah.

Begitu pula tanda titik koma tiga. (,,,) dari SD nggak pernah ada ilmu make koma tiga ini. 🙄

4. Pemborosan kata

Menuliskan kata yang sudah jelas.

Misal :

Masuk ke dalam

(Yang namanya masuk udah pasti ke dalam kan?) Nah, jadi langsung aja tulis "Masuk ke rumah ..."

-Turun ke bawah

-Naik ke Atas

Dll

5. Pengulangan kata

Biasanya Dedek Gemes sering memasukkan kata yang sama dalam satu halaman bahkan satu paragraf.

Kata yang dimasukkan mereka adalah :

Namun, tapi, dan, yang.

Solusinya adalah rajin membaca dan buka KBBI untuk memperkaya kosa kata dan agar tidak memakai kata itu-itu saja. Jangan lupa cek di

https://kbbi.kemdikbud.go.id/ memastikan ada di KBBI atau tidak.

Penulisan tanda baca Namun, tetapi/tapi juga berbeda. Nggak bisa sembrangan.

Kalau kata "namun" maka harus memakai titik sebelumnya.

Contoh :

Ariny mencintai Arizal, namun cowok itu memilih wanita lain. (Salah)

Ariny mencintai Arizal. Namun, cowok itu memilih wanita lain. (Benar)

Sedangkan kata "tapi"justru kebalikannya. Memakai koma sebelumnya.

Contoh :

Ariny mencintai Arizal, namun cowok itu memilih wanita lain. (Salah)

Ariny mencintai Arizal. Namun, cowok itu memilih wanita lain. (Benar)

6. Masih sering keseleo penulisan imbuhan di/ke+kata tempat/kata kerja dan partikel "pun"

Di/ke+kata tempat itu hukumanya wajib dipisah.

Contoh

Ke pasar

Ke mall

Ke rumah

Di rumah

Di mall

Di pasar

Jika merujuk kata kerja maka wajib disambung.

Dirumahkan

Dijalanikan

Dll

-Partikel 'pun' sama seperti point di atas, sering keseleo mana yang harus disambung atau dipisah. Solusinya jadian picture ini sebagai wallpaper HP kamu. Biar terus ingat.

7. Sok berpuitis ria, tapi malah maksa.

Solusinya perbanyak baca buku. Ingat kamu menulis novel itu tujuannya bercerita, bukan berpuisi.

0 Reviews