Home » » Ketika Tonggeret Menangis

Ketika Tonggeret Menangis

Written By . on Senin, 24 Juni 2019 | Juni 24, 2019

Karya :
Ambo Dherma

Aku mendengar suara tonggeret penuh kebahagiaan ketika musim kemarau telah datang di pohon yang tampak dari jendela kamar. Sepanjang hari mereka terus bernyanyi tentang kemenangan hatinya dari musim hujan. Bersenandung indah tanpa peduli orang-orang di sekitar mereka sedang risau. Lagi pula, kata mereka bukankah setiap makhluk hidup memiliki kebebasan?

Aku manggut dengan penjelasan mereka.
Sepanjang musim kemarau, mereka terus seperti itu. Mengingatkan semua orang betapa bahagianya musim yang tampak kering ini. Berharap ada yang sependapat dengan mereka. Bahkan ketika hujan turun di antara musim kemarau, tonggeret itu tidak pernah berhenti untuk bernyanyi.
Namun, semua itu berubah ketika musim kembali berganti.

Ketika itu hujan turun saat mereka menikmati senja. Suara-suara yang sebelumnya menyiratkan akan kesenangan langsung berubah menjadi kesedihan. Lalu senyap, digantikan suara rintik hujan yang sembarangan.

Pada hari selanjutnya, tonggeret itu berhenti bernyanyi karena sadar, gerbang menuju musim hujan telah tampak. Masa di mana mereka akan berdiam diri menikmati rintik hujan dengan kenangan musim kemarau yang tidak seberapa.

***

Aku sangat beruntung bertemu di antara salah satu tonggeret. Dia tiba-tiba muncul dengan suaranya yang melengking seisi kamar. Meskipun terkesan bising, aku bisa merasakan kehangatan di balik suara yang mengganggu. Sejak saat itu, aku memutuskan jika dia adalah temanku.

“Aku baru pertama kali mengetahui jika manusia suka mendengar tonggerek.” Grek berkata saat aku mengelus kepalanya yang licin. O iya, aku memutuskan untuk memberi tonggeret itu nama tanpa sepengetahuannya. Sangat sulit jika aku menyebutny sebagai ‘tonggeret’ di tengah binatang sejenisnya.

“Bukankah suara itu adalah bagian dari alam?”

Grek kembali bersuara dengan lebih lembut.

 “Memang benar, namun kau adalah manusia yang aneh. Bukan hanya senang mendengarku, namun kau juga berbicara denganku.”

Aku terkejut atas pernyataannya. Sejak kapan aku bisa menerjemahkan suara tonggeret sebagai tanda dia berbicara?

“Jangan kau pikirkan tentang hal itu. Aku bahagia jika suaraku mampu membuat orang lain senang.”

“Aku tidak membenci suaramu, Grek. Hanya saja, musim hujan sangatlah berarti bagiku.”
Binatang yang ada di genggamanku bersuara keras sekali. “Jangan kau ingatkan aku akan musim terkutuk itu! Jangan pernah!”

***

Musim kemarau terus beranjak. Orang-orang mulai mengembangkan payung musim hujan saat berjalan keluar. Tonggeret yang aku temukan di kamar beberapa minggu yang lalu terus bersuara dengan nyaring.

“Bagi kami, suara ini adalah perwujudan nyanyian kebebasan setelah tujuh belas tahun hanya terkurung dalam lapisan yang lengket.” Ketika itu Grek bersuara nyaring unutk menjawab pertanyaanku kenapa dia selalu berbunyi.

“Jadi tidak ada hubungannya dengan musim hujan?” Sepertinya aku kelepasan membahas tentang musim hujan.

Grek kembali bersuara. Tampaknya dia tidak marah dengan pertanyaanku. “Tentu saja ada. Kehidupan kami hanya ada di musim kemarau dan juga kematian kami.”

“Begitu cepatnya kalian mati.”

"Mungkin aku adalah tonggeret yang aneh. Saat yang lain sibuk memilih pasangan, aku hanya sibuk bernyanyi bersama kau. Tapi ada satu takdir yang menanti di depan sana, setelah aku kawin, aku akan mati.”

Keningku berkerut mendengar penjelasannya. Begitu menyenangkannya Grek membahas kematian saat dia bersenandung penuh kebahagiaan. Apakah Grek tidak takut akan kematian?

“Mati? Aku tidak tahu rasanya. Saat ini aku hanya ingin bernyanyi tanpa ada terbeban oleh tonggeret betina.” Grek terus bernyanyi hingga senja berakhir.

Apakah aku mesti menjadi tonggeret untuk bisa merasakan kesenangan tanpa perlu memikirkan rasa sakit akibat perasaan yang tidak bertuan ini?

***

“Kau tahu, teman-teman yang lahir bersamaku telah mati. Hanya aku yang tertinggal sebagai tonggeret lapuk.” Baru kali ini aku mendengar Grek bersedih. Padahal musim hujan masih lama lagi untuk datang.

“Aku masih punya hasrat untuk mengawini betina.” Dia merasa tersinggung ketika berusaha menghiburnya. “Meskipun aku adalah tonggeret jantan, aku tahu tentang perputaran kehidupan kami. Kapan saatnya kawin, bertelur, bersembunyi di balik lapisan lengket, dan muncul di dunia ketika musim kemarau.”

“Tidakkah untuk mencari pasanganmu sekarang?”

Grek mengeluarkan suara yang begitu senang. Alangkah cepat suasana hatinya berubah.
“Bernyanyi ini adalah cara untuk menarik betina.”

Kejadian selanjutnya sungguh di luar dugaanku. Grek langsung terbang menuju pohon yang ada di depan jendela kamar. Untuk beberapa saat, terdengar suara nyaring tmilik tonggerek lain, disusul dengan suara dari Grek. Meskipun aku tidak menyaksikan secara langsung, aku tahu jika Grek tengah bercinta dengan tonggeret betina. Memadukan cinta mereka berdua di atas pohon yang kita tanam berdua.

Hei, masih ingatkah engkau akan pohon itu? Pohon yang kita tanam saat masih kecil? Berharap kita akan hidup bersama-sama di bawah naungan yang sama. Jika engkau menginginkan aku untuk melupakan masa-masa itu, sayangnya tidak bisa.

“Aku tidak tahu jika bercinta akan senikmat ini.” Grek kembali di hadapanku dengan suara yang lebih bahagia daripada biasanya.

***

Benarlah apa yang dikata oleh Grek tentang hidupnya yang singkat setelah melakukan pembuahan kepada betina. Suaranya yang nyaring kini terdengar lemah. Namun, dia penuh kebahagiaan karena bisa hidup di musim kemarau dan bersamaku.

Sebagai rasa berterima kasih sebelum dia mati, aku memutuskan untuk menceritakan tentang kita yang telah lama berlalu. Mulai dari kita pertama kali bertemu saat masa kecil dulu. Menanam benih pohon sekaligus menyemai cinta di hati kita berdua. Hingga sama-sama menuai kepedihan ketika tahu jika kita adalah saudara sepersusuan yang mustahil untuk bisa menjalani kehidupan bersama.

“Aku tahu rasa kepedihan kau. Bukankah saat ini kau sudah tidak ada beban untuk mencintainya lagi?” Aku sedikit terpukau dengan penjelasannya. Bagaimana mungkin seekor tonggeret menasehati seorang manusia yang sedang patah hati?

Maka hari selanjutnya, aku memutuskan untuk menghabisi waktu bersama Grek sebelum dia berhenti bernyanyi untuk selama-lamanya. Jasadnya aku kuburkan di bawah pohon tempatnya bercinta dengan sang betina. Pandanganku terpaku kepada bekas gigitan serangga pada batang pohon. Cukup dalam untuk aku bisa melihat jika di dalam sana terdapat betina milik Grek Aku yakin itu adalah betina Grek, karena hanya mereka berdua yang ada di pohon itu.

Aku terharu dengan kisah Grek yang hanya sebentar menemukan betinanya lalu saling berbagi cinta. Tidak semua makhluk hidup bisa menemukan pasangannya secepat itu. Namun, dengan kepergian Grek, aku tahu jika cinta tidak hanya terpaku kepada engkau yang sudah bahagia dengan yang lain. Tidak juga aku akan mengangungkan musim hujan meskipun kita berdua banyak menghabiskan waktu berdua di saat itu. Aku tidak akan menebang pohon ini hingga anak-anak Grek lahir.
SHARE

About .

4 komentar :